Sabtu, 19 Desember 2015

Ekspresi

Oke baiklah. saat ini pakai bahasa kebangsaan dulu ^_^

Ekspresi.
Aku baru saja membaca kiriman facebook Tere Liye.
Ini kirimannya:
Ketika seorang perempuan berteriak menyuruh "Pergi! Sana!", maka boleh jadi, dia justeru barharap kita tetap berada di depannya. Membuktikan kita tidak akan pergi walau diusir sekalipun.

Ketika seorang perempuan bilang, "Biasa saja," maka boleh jadi maksudnya 'Ini luar biasa sekali'. Saat dia diam membisu, pun boleh jadi maksudnya, 'dia setuju'--tapi malu mengungkapkannya. Lantas kenapa ekspresi ...yang keluar berbeda dengan maksud aslinya? Karena itulah istimewanya bangsa perempuan.

Nah, sebagai rahasia kecil, ketahuilah ketika mereka bilang, "Terserah", itu jelas sekali mereka sedang marah.

*Tere Liye

Jujur. aku sedikit tersinggung dengan kirimannya ini.

Aku termasuk orang yang ekspresif. Di tahap kehidupannku sekarang aku bertindak untuk jujur dalam berekspresi.
Ekspresi suka, yaa aku ungkapkan sukaku itu. Ekspresi bingung, yaa aku ungkapkan jugaa..
Ekspresi nggak mood apalagii...
AKu pernah bilang saat wawancara masuk ormawa, bahawa aku orangnya moody. Mungkin agak terdengan childish ya? Entahlah. aku sendiri bingung harus bagaimana untuk mengontrol perasaan ini.
Kata mama' aku emang dari dulu udah ekspresif.

Ohya . ada juga beberapa ekspresi yang tak langsung kuungkapkan.
Such as kecewa, marah, sedih, and some feelings that I don't like to feel.

Daaann hubungannya dengan postingan Tere Liye.
Saat aku tak ingin seseorang pergi. Ya aku bilang ke dia untuk jangan pergi dulu. But sometimes I let them go. Aku tak ingin terlalu egois dalam hal ini.
Saat aku terkagum pada sesuatu, of course aku ungkapkan sejujurnya. Yepp! I told you aku ekspresif. Aku terkenal orang yg hiperaktif kata mereka. Dan aku juga ada satu prinsip bahwa rang akan lebih suka kalau karyanya benar-benar dihargai. Meski hanya sebatas ungkapan "Wow. Keren!" Isn't it so amazing when someone say it to you about your masterpiece? even yours is not that good?
That's why aku ekspresikan saja saat aku suka.

Aku lebih suka mengekspresikan hal-hal ceria. hal-hal positif. Nice. Good. Fabulous. Amazing. Wow-things.

But sometimes saat aku lagi nggak mood tanpa sebab, yeah it's disgusting. I don't like it. They confused about me. Idk how to handle it. They don't know how to handle it.
Sometimes I'll do what I want, even I don't need that. What's wrong, eh? Daripada aku badmood dan merusak suasana, better aku memperbaiki moodku baru gabung dengan mereka.

Oooiii ini malah kagak masuk masuk ke topik utama pembahasan.

Oke jadi gini.
DI tahap kehidupanku sebelumnya, aku pernah nggak se-ekspresif ini.
Aku sembunyikan rasa sukaku.
Oke baik ini tentang crush.
Aku diam. menikmainya, menikmati rasa sukaku dalam sela-sela keseharian tanpa diketahui.
hasilnya? Tak terjangkau. Tak tahu bahwa aku suka. tak tahu bahwa aku ingin. tak tahu bahwa aku punya harapan. It flies away. Endingnya? disappointed. menyesali kenapa tak aku ekpresikan saja rasa sukaku.

dan sekarang?
aku suka. aku ekspresikan. aku ungkapkan.
hasilnya? tetap tak terjangkau.

I've tried to control this feeling. supaya nggak semenjijikkan yg dibayangkan.

lantas aku coba 50:50
Kuungkapkan tapi tak sepenuhnya.
dan entahlah...
terbangnya terlalu tinggi. larinya terlalu kencang. menyelamnya terlalu dalam.
tak terjangkau.
still...

Sering kuberfikir. Mengenai sesuatu yang bahkan aku sendiri tak berani mengungkapkannya. Ini terlalu mengerikan. Aku tak ingin mengungkapkannya. Biarlah aku sendiri yang merasa.
Dari fikiran mengerikan itu... timbul satu pertanyaan.

"Bagaimana rasanya disukai sesuatu yang kita sukai?"

Salam Cheer-Seeker,
-Ismidita : )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar